Panic buying merupakan fenomena perilaku yang ditunjukkan dengan cara membeli kebutuhan pokok dalam jumlah besar secara mendadak. Hal ini biasanya dipicu oleh ketakutan akan terjadinya kelangkaan barang atau kekhawatiran kondisi situasi yang akan semakin memburuk. Menurut Yuen et al. (2020), panic buying dapat terjadi ketika konsumen membeli suatu produk dalam jumlah yang sangat banyak sebagai bentuk dari antisipasi, selama atau setelah bencana, maupun perkiraan bencana sebagai pencegahan akan terjadinya kenaikan harga atau ketersediaan pasokan yang kurang. Dengan adanya panic buying tidak hanya akan merugikan diri sendiri, tetapi juga dapat merugikan masyarakat secara keseluruhan. Secara tidak sadar, kebiasaan panic buying ini dapat memperburuk krisis yang ada dengan adanya peningkatan permintaan yang mendadak, sehingga stok yang tersedia menjadi lebih cepat habis. Fenomena ini muncul akibat terjadinya kelangkaan pembelian bahan bakar minyak (BBM) yang mengakibatkan terjadinya antrean panjang pada SPBU di beberapa daerah yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan distribusi yang ada.
Fenomena panic buying ini diduga dipicu oleh konflik yang terjadi antara Iran dan Amerika Serikat. Salah satu komoditi yang terdampak adalah bahan bakar minyak (BBM). Masyarakat di beberapa daerah seperti Jember, Medan, Aceh dan Kalimantan Barat beramai-ramai melakukan pembelian di SPBU dalam jumlah besar, yang mengakibatkan terjadinya antrean panjang. Namun, berdasarkan informasi resmi yang ada, sebenarnya pasokan cadangan BBM di Indonesia sendiri masih relatif aman, sehingga masyarakat tidak perlu untuk melakukan panic buying. Hal ini juga disampaikan dalam resmi pemerintah mengenai kestabilan stok BBM yang ada di Indonesia.
Fenomena panic buying ini dipicu oleh masyarakat yang memiliki kecemasan dan kekhawatiran yang tinggi terhadap takutnya akan terjadi kenaikan BBM serta adanya kemungkinan terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) seperti yang telah terjadi di sejumlah negara saat ini. Panic buying ini mengakibatkan kemampuan seseorang untuk dapat berpikir secara rasional menjadi menurun. Ketika seseorang merasa berada pada situasi yang tidak pasti, sehingga mudah terpengaruh oleh lingkungan di sekitarnya.
Terjadinya panic buying disebabkan oleh penyebaran informasi yang masif terkait konflik yang terjadi antara Iran dan Amerika Serikat. Hal ini memicu kekhawatiran masyarakat di Indonesia, meskipun Indonesia sendiri tidak terdampak langsung pada ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Media menjadi penyebaran informasi yang cepat, sehingga dapat memperkuat adanya persepsi ancaman. Adanya perilaku sosial seperti antrean yang mengular di beberapa SPBU dan tindakan masyarakat yang membeli BBM dalam jumlah banyak, memicu efek konfrontasi sosial. Lingkungan sosial secara tidak langsung dapat menyebabkan tekanan agar seseorang melakukan hal yang sama agar tidak merasa dirugikan.
Fenomena panic buying bahan bakar minyak (BBM) dapat dipahami sebagai respons individu ketika menghadapi situasi yang tidak pasti. Menurut İlknur Saral (2024), perilaku ini berkaitan dengan cara seseorang merespons ancaman dan rasa kehilangan kendali. Salah satu penjelasannya dapat dilihat melalui Compensatory Control Theory menurut Aaron C. Kay dkk. (2008), yang menjelaskan bahwa ketika seseorang merasa situasi berada di luar kendalinya, ia akan berusaha mencari cara untuk mendapatkan kembali rasa kontrol tersebut. Dalam konteks panic buying BBM, pembelian dalam jumlah banyak dianggap menjadi salah satu cara untuk menciptakan rasa aman di tengah ketidakpastian.
Perilaku ini juga berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia. Menurut Abraham Maslow (1943), kebutuhan akan rasa aman (safety needs) menjadi hal yang penting ketika seseorang merasa terancam. Ketika muncul kabar bahwa BBM akan sulit didapat, kebutuhan ini akan menjadi terganggu. Dari sini, muncul dorongan untuk segera mengamankan kebutuhan tersebut, meskipun secara rasional belum tentu diperlukan dalam jumlah banyak.
Pengaruh lingkungan sosial turut memperkuat perilaku ini. Menurut Robert Cialdini (1999), melalui konsep social proof, individu cenderung mengikuti tindakan orang lain, terutama dalam situasi yang tidak pasti. Ketika banyak orang mulai mengantre dan membeli BBM, tindakan tersebut perlahan dianggap sebagai hal yang wajar. Akibatnya, panic buying tidak hanya terjadi pada satu individu, tetapi berkembang menjadi pola perilaku yang diikuti bersama.
Dalam situasi seperti ini, cara informasi disampaikan menjadi hal yang cukup berpengaruh terhadap respons masyarakat. Pemerintah dan media memiliki peran dalam membentuk bagaimana suatu kondisi dipahami. Ketika informasi yang disampaikan tidak konsisten atau terlalu menekankan sisi krisis, kekhawatiran dapat lebih mudah berkembang. Sebaliknya, penyampaian yang jelas dan tidak berlebihan dapat membantu menjaga cara pandang masyarakat tetap seimbang.
Respons individu terhadap informasi juga menjadi bagian yang sangat penting. Dalam kondisi yang tidak pasti, dorongan untuk segera bertindak sering kali muncul tanpa pertimbangan yang cukup. Padahal, tidak semua situasi membutuhkan respons yang berlebihan. Dalam konteks panic buying BBM, mencoba melihat kembali kebutuhan secara lebih tenang dapat menjadi langkah sederhana yang berdampak lebih luas.
Kekhawatiran yang muncul di tengah situasi tidak pasti dapat mendorong seseorang bertindak di luar kebutuhan sebenarnya. Upaya untuk merasa lebih aman sering kali dilakukan dengan membeli dalam jumlah lebih banyak (Kay dkk., 2008; Maslow, 1943), dan hal ini semakin meluas karena individu cenderung mengikuti tindakan orang lain (Cialdini, 1999). Jika dibiarkan, kondisi ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan BBM, tetapi juga dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk memahami situasi secara lebih tenang agar respons yang muncul tetap sesuai dengan kebutuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Kompas. (2026, March 8). BPKN Minta Masyarakat Tak Panic Buying BBM akibat Konflik Global, Stok Energi Dipastikan Aman. Kompas. https://www.kompas.tv/ekonomi/655402/bpkn-minta-masyarakat-tak-panic-buying-bbm-akibat-konflik-global-stok-energi-dipastikan-aman
Kompas. (2026, April 1). Mengapa panic buying terjadi saat krisis? Ini penjelasannya. Kompas. https://money.kompas.com/read/2026/04/01/081800726/mengapa-panic-buying-terjadi-saat-krisis-ini-penjelasannya
Kompas. (2026, March 26). Niat Kurangi Antrean, Pembatasan BBM Justru Bikin Warga Panic Buying di Kalbar. Kompas. https://www.kompas.com/kalimantan-barat/read/2026/03/26/063756788/niat-kurangi-antrean-pembatasan-bbm-justru-bikin-warga-panic
Marup, M. (2026, March 31). Isu Kenaikan Harga BBM Picu Panic Buying, Simak Penyebab dan Dampaknya. Metro TV . https://www.metrotvnews.com/read/b7WCmxDl-isu-kenaikan-harga-bbm-picu-panic-buying-simak-penyebab-dan-dampaknya
Saral, I. (2024). Panic Buying: A Theoretical and Conceptual Review. Güncel Pazarlama Yaklaşımları Ve Araştırmaları Dergisi, 5(2), 199-222. https://doi.org/10.54439/gupayad.1564427
Yuen, K. F., Wang, X., Ma, F., & Li, K. X. (2020). The Psychological Causes of Panic Buying Following a Health Crisis. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(10), 3513. https://doi.org/10.3390/IJERPH17103513