Artificial Intelligence (AI) merupakan salah satu inovasi teknologi yang perkembangannya paling pesat saat ini (Maghfiroh & Widhiastuti, 2025). Kemajuan AI didukung oleh tiga faktor utama: komputasi yang semakin murah, ketersediaan data yang melimpah, serta dukungan besar dari perusahaan dan negara yang melihat AI sebagai instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan berbagai sektor (Heriyanto, 2025). Faktor-faktor inilah yang mendorong adopsi AI secara masif di berbagai penjuru dunia.
Dalam sejarah perkembangannya, kehadiran ChatGPT dianggap sebagai salah satu inovasi yang paling progresif sehingga sering diposisikan sebagai pelopor tren AI generatif (Ravika, 2024). ChatGPT merupakan chatbot AI yang mampu menjawab, menanggapi, dan memproduksi konten berdasarkan permintaan pengguna (Hardiansyah, 2023). Momentum ini kemudian memicu lahirnya berbagai aplikasi AI lain, seperti Gemini, Perplexity, DeepSeek, Grok, dan Meta AI. Meskipun canggih, kehadiran AI memunculkan pro dan kontra, terutama terkait dampaknya terhadap kemampuan kognitif manusia.
AI dapat menjadi instrumen yang solutif ketika digunakan secara bijak. Teknologi ini dapat menjadi teman diskusi bagi pengguna yang mengalami kebuntuan ide, sehingga membantu memantik berbagai gagasan baru. Hal ini sejalan dengan teori berpikir divergen yang dikembangkan oleh J.P. Guilford, yang menekankan bahwa otak manusia memiliki kemampuan untuk menghasilkan berbagai ide, solusi, dan alternatif jawaban. Ketika seseorang kehabisan ide, AI dapat berperan sebagai pemicu kognitif dengan menawarkan berbagai opsi dan kerangka berpikir dalam waktu singkat. Dengan demikian, AI dapat membantu memperluas alternatif gagasan yang kemudian diseleksi melalui penalaran konvergen manusia untuk menemukan jawaban terbaik.
Selain itu, AI juga dapat membantu meminimalisir kesalahan yang sering muncul akibat keterbatasan kognitif. Dalam teori Cognitive Load Theory yang dikemukakan oleh John Sweller, memori kerja manusia memiliki kapasitas terbatas. Oleh karena itu, proses belajar dan berpikir akan berjalan lebih efektif apabila beban kognitif ekstrinsik tidak mendominasi. AI berperan sebagai alat yang membantu mengurangi beban tersebut, misalnya dalam merapikan format, memeriksa kesalahan penulisan, mengurutkan data, atau menghitung rumus dasar. Dengan begitu, kapasitas memori kerja manusia dapat lebih banyak digunakan untuk tugas berpikir tingkat tinggi, seperti menganalisis data, memberi kritik, dan mengembangkan gagasan.
Namun, di balik manfaatnya, AI juga membawa risiko jika digunakan tanpa pengawasan dan verifikasi. Ketika informasi diperoleh secara instan dan tanpa mengecek latar belakangnya, kapasitas kognitif manusia dapat mengalami penyempitan. Teori cognitive miser menyebut bahwa otak manusia cenderung menghindari usaha mental yang berat dan memilih jalan pintas. Jika penggunaan AI menjadi terlalu pasif, manusia dapat semakin malas melakukan analisis secara mandiri. Akibatnya, kemampuan penalaran dan fokus menjadi menurun, karena individu cenderung mengandalkan teknologi tanpa membangun proses berpikir yang mendalam.
Risiko lain muncul ketika AI digunakan untuk memvalidasi perasaan pengguna. Dalam bias konfirmasi, individu cenderung menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya dan menolak informasi yang bertentangan. Karena AI mampu menyajikan banyak jawaban dengan cepat, manusia dapat dengan mudah menemukan respons yang memperkuat premisnya sendiri. Kondisi ini dapat memicu kepuasan semu dan semakin memperkuat bias konfirmasi dalam kehidupan sehari-hari. Jika dibiarkan terus-menerus, pola pikir ini dapat berkembang menjadi black-and-white thinking, yaitu kecenderungan untuk melihat segala hal dalam dua kategori ekstrem: benar atau salah, tanpa ruang untuk nuansa dan ambiguitas.
Dengan demikian, pertanyaan apakah AI adalah kawan atau lawan bagi kognitif manusia tidak dapat dijawab secara hitam-putih. Jawabannya bergantung pada cara individu menggunakan dan mengelola AI. Jika dikendalikan dengan bijak, AI dapat menjadi kawan yang membantu memperluas kreativitas, mengurangi beban kognitif yang tidak relevan, dan mendorong ide-ide baru yang autentik. Namun, jika manusia membiarkan dirinya terlalu bergantung pada AI, teknologi ini dapat berubah menjadi lawan yang secara perlahan melumpuhkan kemampuan berpikir mandiri. Karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai mitra yang membantu, bukan pengganti proses berpikir manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Hardiansyah, Z. (2023). Apa Itu ChatGPT: Pengertian, Cara Menggunakan, dan Kegunaannya. Kompas.
Heriyanto, D. (2025). 5 Alasan AI Berkembang Begitu Cepat. trendsetter.id.
Maghfiroh, U., & Widhiastuti, R. (2025). Kemampuan Berpikir Kritis: Bagaimana Ketergantungan AI dan Cognitive Offloading Menjadi Faktor yang Mempengaruhi dengan Diperkuat oleh Adversity Quotient. Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran, 8(3). https://doi.org/10.30605/jsgp.8.3.2025.6738
Ravika, A. (2024). Mengungkap Sejarah Perkembangan AI dari Masa ke Masa. belajarlagi.
Siregar, T. (2025). Cognitive Load Theory. Tujuh Pustaka Penerbit.